Informacja

Drogi użytkowniku, aplikacja do prawidłowego działania wymaga obsługi JavaScript. Proszę włącz obsługę JavaScript w Twojej przeglądarce.

Przeglądasz jako GOŚĆ
Zmień bibliotekę
Tytuł pozycji:

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA AKIBAT ADANYA PERKAWINAN ANTAR PEKERJA SEKANTOR PASCA PUTUSAN MK NOMOR 13/PUU-XV/2017

Tytuł :
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA AKIBAT ADANYA PERKAWINAN ANTAR PEKERJA SEKANTOR PASCA PUTUSAN MK NOMOR 13/PUU-XV/2017
Autorzy :
Irianti, Lavenia Nadya
Pokaż więcej
Temat :
Pekerja/Buruh
Pemutusan Hubungan Kerja
Peraturan Perusahaan
Perjanjian Kerja Bersama
Źródło :
Jurist-Diction; Vol 2, No 1 (2019): Volume 2 No. 1, Januari 2019; 184-204 ; 2655-8297 ; 2721-8392
Informacja o wydawcy :
Faculty of Law, Universitas Airlangga
Rok publikacji :
2019
Kolekcja :
Journal of Universitas Airlangga
Typ dokumentu :
article in journal/newspaper
Opis pliku :
application/pdf
Język :
English
Relacje :
http://e-journal.unair.ac.id/JD/article/view/12107/7095;">http://e-journal.unair.ac.id/JD/article/view/12107/7095; http://e-journal.unair.ac.id/JD/article/view/12107
DOI :
10.20473/jd.v2i1.12107
Dostępność :
https://doi.org/10.20473/jd.v2i1.12107
http://e-journal.unair.ac.id/JD/article/view/12107
Prawa :
Copyright (c) 2019 Jurist-Diction ; http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
Numer akcesji :
edsbas.1CF999A
Czasopismo naukowe
Hubungan kerja merupakan suatu hubungan hukum antara pengusaha dengan pekerja/buruh yang terjadi berdasarkan perjanjian kerja. Hubungan kerja yang terjadi antara pengusaha dengan pekerja/buruh tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemutusan hubungan kerja diatur dalam Pasal 150 sampai dengan Pasal 173 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. PHK lebih sering terjadi dari pihak pengusaha. PHK oleh pengusaha terhadap pekerja/buruh terhadap beberapa faktor sebagaimana diatur dalam Pasal 158 ayat (1) UU Ketenagakerjaan. Namun pengusaha memiliki larangan dalam melakukan PHK dengan alasan yang ada pada Pasal 153 ayat (1) UU Ketenagakerjaan. Salah satumua ada pada Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan yang menjelaskan bahwa pengusaha dilarang melakukan PHK dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Hal tersebut dirasa lebih berpihak kepada pihak pengusaha. Pada tanggal 14 Desember 2017 Mahkamah Konstitusi mengabulkan adanya permohonan uji materi Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan dengan mengeluarkan putusan dengan nomor perkara 13/PUU-XV/2017. Akibatnya, berdasarkan putusan MK tersebut, Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan dinyatakan tidak mengikat.

Ta witryna wykorzystuje pliki cookies do przechowywania informacji na Twoim komputerze. Pliki cookies stosujemy w celu świadczenia usług na najwyższym poziomie, w tym w sposób dostosowany do indywidualnych potrzeb. Korzystanie z witryny bez zmiany ustawień dotyczących cookies oznacza, że będą one zamieszczane w Twoim komputerze. W każdym momencie możesz dokonać zmiany ustawień dotyczących cookies